Soal Macan Turun Gunung dan Mangsa Ternak Warga di Ciamis, Begini Penjelasan BKSDA

8 September 2021, 21:14 WIB
Jejak kaki macan yang ditemukan di sekitar permukiman warga di kaki Gunung Sawal Kawali Ciamis. Jejak kaki ini kuat dugaan dari macan kumbang yang sebelumnya memangsa hewan ternak warga setempat.* /kaabr-priangan.com/Agus Pardianto/

KABAR PRIANGAN - Beberapa hari ini warga di dua desa yakni desa Sindangjaya dan Sindangsari, kecamatan Kawali, Kabupaten Ciamis, resah menyusul hewan ternak mereka mati di dalam kandang.

Seperti hewan ternak kambing milik Sopiah (56) di Sindangjaya yang tergeletak mati di kandang dan terlihat luka di leher bekas gigitan hewan buas.

Peristiwa ini diketahui Sopiah ketika hendak memberi pakan dan melihat satu dari enam kambingnya mati. Terlihat darah kambing yang berceceran di sekitar kandang.

Sopiah bersama keluarganya menelusuri bekas darah dan melihat jejak Panthera Pardus atau macan kumbang yang mengarah ke area hutan kaki Gunung Sawal. Akibat peristiwa ini, Sopiah mengalami kerugian jutaan rupiah.

Baca Juga: Ngeri! Macan Turun Gunung, Warga Sindangjaya Ciamis Resah

"Ini kejadian kedua kalinya hewan saya dimangsa macan, sepertinya mereka keluar hutan untuk mencari makan," ucap Sopiah, Rabu, 08 September 2021.

Menurut petugas BKSDA (Badan Konservasi Sumber Daya Alam) Ciamis, Dede Nurhidayat, peristiwa ini sudah beberapa kali terjadi.

Bahkan dalam kurun waktu dari 2 tahun ini, sudah lebih dari 2 ekor Panthera Pardus yang keluar hutan dan masuk ke pemukiman penduduk. Diduga macan tutul keluar hutan lantaran rantai makanan yang terganggu.

"Banyak faktor yang membuat macan masuk ke pemukiman penduduk diantaranya adalah aktivitas manusia di sekitar kaki gunung dan daya jelajah macan yang cukup luas, sementara habitat macan tidak ingin saling bersinggungan area teritori, sehingga banyak dari mereka yang bergeser ke pemukiman penduduk," jelas Dede Nurhidayat.

Baca Juga: Pemuda Asal Sadananya Ciamis Ciptakan 'Pesawat Terbang' 

Penelitian terakhir tahun 2017 lalu, terdapat 13 ekor Panthera Pardus di Gunung Sawal. Dede menjelaskan, daya jelajah macan dewasa cukup luas mencapai 10 kilometer.

Sementara luas kawasan teritori macan di Gunung Sawal kini semakin berkurang akibat aktivitas manusia termasuk adanya perburuan babi hutan.

"Ketika hutan terdegradasi oleh aktivitas manusia, wilayah mereka semakin sempit dan mendorong jelajah macan hingga ke pemukiman penduduk, saya pun memohon agar semua pihak menjaga vegetasi hutan agar rantai makanan tetap terjaga," imbuhnya.

BKSDA Ciamis menghimbau agar warga di sekitar kaki Gunung Sawal untuk berhati-hati dan tidak membunuh macan bila tertangkap oleh warga.

Terkait banyaknya hewan ternak yang mati, Dede menyarankan agar warga membuat konstruksi kandang tidak dari bambu yang mudah rusak oleh macan.

BKSDA Ciamis kini sudah memiliki Tim Reaksi Cepat untuk menanggulangi perburuan hewan ternak oleh Panthera Pardus atau macan tutul. Petugas meminta agar warga segera melaporkan bila melihat atau hewan mereka mati dimangsa.***

Editor: Teguh Arifianto

Tags

Terkini

Terpopuler